AKU
Aku.. aku adalah seorang
manusia yang diberi kesempatan hidup oleh allah sejak 38 tahun
silam, secara fisik aku termasuk kategori biasa biasa saja, tidak jelek dan
tidak cantik, tidak tinggi dan tidak pendek sekali, tidak putih dan tidak hitam,
benar-benar menengah. Aku dilahirkan dari keluarga baik dan berlatar belakang
agama yang baik juga, ayahku yang berasal dari keluarga petani membentuk diriku
menjadi pribadi sederhana. sedangkan ibuku yang berasal dari keluarga pedagang
membentuk diriku menjadi pribadi pekerja keras dan pejuang.
Dalam keluargaku aku
adalah anak ke 4 dari lima bersaudara. aku sangat bahagia dan bangga menjadi
bagian dari keluarga besarku. Di kampung halamanku, setiapkali disebut nama
nenek moyangku orang pasti akan memberikan apresiasi yang positif, pendek
kata tidak ada yang salah dari latar belakang kehidupanku.
Entah mengapa, meski dari
keluarga yang baik, sejak kecil aku merasa diriku ini tidak baik, aku
"cilik ati" {kata orang jawa}, selalu merasa tidak berarti apa-apa,
tidak bisa melakukan apa apa dan merasa tidak punya apa apa, aku bahkan pernah
menulis surat untuk ibuku dan bertanya padanya mengapa aku tidak disayangi. Ibu
tidak pernah membalas suratku, membahasnyapun tidak pernah, sepertinya beliau
berharap suatu hari aku akan tahu dengan sendirirnya.
Sejak kecil meski bukan anak
yang pendiam, tapi aku tidak pernah membicarakan masalahku, dan hal-hal yang
aku hadapi kepada siapapun, dan tidak ada satupun orang yang bertanya tentang
aku. Kakak kakakkupun sibuk dengan dunia mereka masing masing, nyaris aku tidak
punya siapa siapa, aku hanya punya seorang teman bermain yang sangat dekat,
tapi sayang dia pindah sekolah saat kelas 5 SD. Sejak saat itu peringkat
kelasku turun.
Setelah SD aku minta masuk ke
pesantren karena aku merasa tidak punya teman di rumah, karena teman sekolahku
tidak ada yang rumahnya dekat dengan rumahku. Di pesantren atau dirumah bagiku
sama saja, meski awalnya aku berprestasi, lama kelamaan aku menjadi anak yang
biasa biasa saja. Masa masa dimana aku masih labil ini aku sempat punya banyak
sahabat pena, salah satunya ada yang usianya jauh di atasku, beliau muallaf,
aku mengirimnya foto dan akhirnya memintanya kembali, lucu sekali kalo ingat
itu. ingin rasanya meminta maaf tapi aku lupa bahkan nama dan alamatnya.
Karena aku bukan dari
keluarga mampu, di pesantren aku hidup seadanya bahkan di bawah rata-rata,
sering nggak punya uang, baju harian cuma 3, pakaian dalam cuma 2, yang
satu kupakai yang satu ku cuci. jangankan dapat kiriman roti atau susu, untuk
keperluan sehari hari saja kurang. Aku memaklumi semua itu, aku tidak pernah
mengeluh. yang membuatku sedih justru sikapku yang keras dan ingin eksis dengan
keadaanku seperti itu. Baru saat ini aku menyadari kalau aku saat itu aku tidak
bisa berteman, tidak bisa mengelola diriku, tidak ada juga yang perduli dan
menasehatiku.
Saat kuliah, kebetulan aku
berteman dengan teman teman yang amat baik dan cantik-cantik, sangat cantik
malah. dari segi materi mereka sangat berkecukupan, keluarga mereka juga penuh
perhatian. kebalikan semua dari keadaanku. Saat itu sikapku pada mereka tidak
baik, mungkin untuk menutupi kekuranganku, ah, aku memang tidak bisa berteman.
Akhirnya mereka menjauhiku. Dari kejadian itu aku belajar banyak sekali, aku
berubah sedikit demi sedikit, aku mulai punya teman, sahabat dan memperbaiki
sikapku. Tapi sayang, aku tidak bisa menjalin hubungan dengan lawan jenisku
alias tidak punya pacar, dalam hal yang satu itu aku mudah sekali berubah, penuh
pertimbangan. yang pertama- tama kurasakan tentang hubungan adalah aku tidak
pernah merasa suka, tapi aku sudah merasa ditolak. Perasaan seperti ini
aku rasakan terhadap seorang teman laki-laki dikampus yang baru aku kenal, aku
tidak punya rasa apa-apa terhadapnya, tapi dia selalu terlihat tidak tak acuh
setiap kali aku bicara dan berada di dekatnya, sikapnya yang merendahkan aku {dalam
versi kaca mataku, karena mungkin tidak begitu} membuat aku menangis dan merasa
buruk. Ya, aku tidak suka ditolak.
Perasaan seperti inilah yang membuatku sok jaim terhadap lawan jenis. Aku
merasa harus betul betul yakin terhadap pria yang menyukaiku, meski kadang aku
suka aku selalu bilang tidak dan berharap dia mengejarku. Memang aneh sekali
sikapku saat itu, dan sikap yang seperti itulah yang kelak membuatku kehilangan
kesempatan untuk hidup dengan orang yang aku cintai dan mencintaiku.
Aku pernah
menunggu seseorang yang aku cintai dan dia bilang dia juga mencintai aku, aku
selalu menjaga sebuah lukisan bunga padi yang dia buat untukku, aku menunggu
janjinya untuk menonton di bioskop 21 suatu hari nanti bila kita punya
kesempatan. Bukan salahnya kalo dia pergi begitu saja, karena saat dia bilang
suka aku bilang padanya aku ingin berteman dekat dulu dengannya, mungkin
baginya itu adalah penolakan. Padahal aku ingin yakin bahwa dia benar-benar
suka padaku. Aku menghubungi nomer rumah temannya yang katanya adeknya perwira
polisi dimana kita sering bertemu, tapi katanya sudah pindah. Sejak itu aku
mulai menerima tawaran orang tuaku untuk menikah dengan pria pilihan mereka
yang tidak pernah aku kenal sama sekali. Menikah tanpa cinta, tapi tidak juga dipaksa
inilah yang kelak menjadikanku berubah menjadi jauh dari akar kehidupanku yang
sebelumnya. Membuatku mudah terpeleset kepada hal-hal yang tidak baik. {kelak
aku tidak akan memilihkan pasangan untuk anakku, biarlah mereka menikah dengan
orang yang benar-benar mereka kenal dan mereka cintai}
Orang
tuaku memilihkan jodoh semata-mata karena mereka menyayangiku, kalau toh
akhirnya tidak seperti yang mereka harapkan pasti karena mereka tidak tahu.
Mereka benar-benar tidak tahu karena mereka mengenal dia melalui perantara saudaranya saudara ipar,
mereka mungkin sangat tertarik karena
calon jodohku ini {kelak jadi suamiku} menurut yang bersangkutan konon anaknya
ulama besar, punya pekerjaan sebagai dosen tetap perguruan tinggi ternama,
punya rumah, dan mobil sendiri. Intinya sudah mapan dan berharap kelak aku juga
menjadi orang yang bahagia dengan kemapanan yang dikatakannya.
Setelah
menikah, bahkan dihari pernikahan yang pada saat itu di dalam hatiku aku berdoa
semoga tidak pernah terjadi aku mulai mengenalnya. Aku dinikahi dengan mas
kawin seribu rupiah, sebelumnya aku mengatakan bahwa aku tidak mau menerima mas
kawin itu, lebih baik seperangkat alat shalat saja. Tetapi betapa terkejutnya
aku pada saat ijab kabul justru mas kawin itu yang diberikan, saudara-saudaraku
mentertawaiku karena hargaku lebih murah dari semangkuk bakso. Tapi semua sudah
terjadi, aku memakluminya dan melupakannya.
Setelah
aku pindah ke kotanya yang jauh dari kotaku, aku mulai tahu yang sebenarnya,
dia tidak bekerja seperti yang dikatakannya, dia juga belum selesai kuliah,
kami bahkan menumpang di rumah saudaranya karena tidak sepeserpun uang yang
dimiliki, kami hidup dari uang tabunganku. Aku tidak mempermasalahkannya
meskipun semua kenyataan kebalikan dari yang dia katakan terhadap orang tuaku
dan perantaranya. Tidak ada pekerjaan, tidak ada rumah, dan mobil yang selalu
dibawanya ke kotaku ternyata adalah mobil pinjaman dari temannya. Aku bahkan
menutupinya dari orang tuaku, aku tidak ingin mereka sedih. Yang aku sesali darinya
adalah dia tidak menyayangiku, pernah dia mengatakan lebih baik kehilangan aku
dari pada kehilangan teman teman rokok kesukaannya, karena dia memang perokok
berat. Pekerjaan sehari harinya adalah tidur dan begadang, setiap kali aku
memintanya menyelesaikan kuliahnya, atau melakukan sesuatu pekerjaan atau
setidaknya mencari pekerjaan dia pasti
marah besar dan mengata ngataiku dengan kasar. Dalam keadaan seperti itu dia
masih besikap sombong dan suka omong besar, angannya setinggi langit tapi tidak
mau melakukan apa-apa {no action talk only}
Aku
masih berharap suamiku berubah, karena itu aku memutuskan untuk pulang ke
kampung halamanku disaat usia kehamilanku 6 bulan dengan alasan ingin
melahirkan di rumah orang tua, aku berharap dengan aku pergi dia akan berfikir
untuk menata hidup keluarga kami. Sampai saat itu orang tuaku belum tahu
keadaanku yang sebenarnya. Setelah anakku berusia enam bulan aku membawanya
kembali ke kota suamiku dengan catatan aku tidak mau menumpang, apapun keadaan
kami aku ingin mengontrak rumah. Orang tuaku mulai curiga dan akhirnya
mengetahui keadaan suamiku yang sebenarnya. Mungkin karena rasa bersalah padaku
orang tuaku sering mengirimku uang dan membelikan sepeda motor untuk memulai
semuanya.
Ternyata setelah kami punya anakpun suamiku tidak berubah, tetap saja
suka begadang saat malam dan tidur di siang harinya. Bahkan sikapnya terhadapku
malah semakin kasar, pernah aku ingin pergi dan kembali kepada kedua orang
tuaku, tapi aku takut orang tuaku sedih, sakit dan menderita karena aku. Yang
lebih membuatku sedih adalah aku hamil lagi di saat anak pertamaku masih kecil,
yah aku tidak punya uang untuk ber KB. Lagi-lagi aku melahirkan anakku di rumah
orang tuaku, dibiayai oleh orang tuaku dan aku menumpang hidup dengan mereka.
Tapi apapun keadaanya aku harus kembali kepada suamiku dan berharap ia berubah.
Setelah
anakku berusia satu bulan aku kembali ke kota suamiku dan mulai bekerja, orang
tuaku juga memberiku modal untuk membuat rumah. Setelah aku bekerja dan menjadi
pegawai negeri, suamiku juga bekerja di yayasan keluarganya. Hidup kami mulai
membaik, tapi kegemarannya begadang dan tidur tidak berubah, untunglah dia
bekerja pada keluarganya, jadi dia bisa berangkat semau maunya. Sikapnya yang
tidak disiplin dan semaunya membuat konflik dalam keluarganya, belakangan aku
baru menyadari bahwa rumah kami yang sangat mewah ini sebagaiannya bukan dari
hasil kerja suamiku. Aku merasakan betul keinginannya pada uang dan kemewahan
sangat besar padahal penghasilannya jauh dari yang digambarkan oleh keadaan
fisik keluarga kami, rumah besar, mobil mewah, dan lainnya. Aku ingin sekali
mengembalikan yang bukan hakku ini, tapi dia tidak akan terima dan akan
memakiku, sampai kinipun aku menyadari betul bahwa yang aku makan dan aku pakai
sebagian bukanlah harta yang halal. Tapi aku sungguh tidak bisa berbuat apa-apa.
Dalam
keuangan keluarga, suamiku memegang peranan yang sangat besar, menurutnya aku
bekerja karena seijinnya, maka semua hasil kerjaku harus aku relakan untuk
diatur olehnya, pernah suatu kali aku merasa sangat membutuhkan dan meminta
satu bulan gajiku saja untuk keperluanku dia mengatakan kepadaku bahwa aku
tidak berhak atas apapun karena aku hanya datang ke kotanya dengan membawa
kemaluanku saja, aku syok dan memutuskan untuk pergi karena tidak sanggup
menghadapinya, tapi diluar dugaanku dia menodongkan parang di leherku dan
mengatakan akan membunuh keluarga kami bila aku melakukan itu. Aku tahu
kenekatannya, dia sangat temperamen, aku sudah biasa dimarahi di depan orang
banyak, di lempar alat dapur, hp, botol. Pembantuku yang selalu menyaksikan
keadaanku mengadu pada orang tuaku, mereka memaksaku untuk berpisah demi
kebaikanku dan anak-anak, mereka akan membantu. Saat aku mempertimbangkan
ternyata aku sedang hamil 3 bulan, akhirnya aku putuskan tetap bertahan sampai
hari ini.
Anak
ketiga, aku lahirkan dikota ini, semenjak kelahiran anak ketigaku ini sikap
suamiku mulai berubah, dia selalu mencoba
menahan amarahnya, dulu dia mudah marah membabi buta bahkan pada anak
anak, memukul, melempar, semuanya dilakukan dengan ringannya. Tetapi kepada
anak ketiga kami dia sangat sayang. Satu satunya yang tidak berubah adalah
kesukaaanya pada kemewahan.
Penyesalan
terbesarku dalam hidup ini adalah menikah tanpa sedikitpun rasa cinta. Sejak
awal menikah dengannya, aku merasa sudah mati rasa dalam cinta, aku tidak
memperdulikannya sama sekali, jangankan saling pengertian, bercanda pun aku
tidak pernah melakukankanya dengan suamiku, bagiku yang penting anak-anak dan
orang tuaku bahagia. Keadaan seperti inilah yang mempertemukanku dengan dunia
maya, aku mencari hiburan, teman, aku juga ingin tertawa, ingin berbagi rasa.
Beberapa kali aku jatuh “cinta” dengan teman dunia maya. Aku malah dekat dengan
banyak pria di dunia “mimpi” ini, jujur saja, ternyata aku senang di cintai,
senang diperhatikan, senang berbagi. Aku bahkan sampai kelewat nakal. Sampai
suatu ketika ada seorang teman chatting yang pada awalnya menurutku biasa biasa
saja, aku jga tidak telalu tertarik untuk ngobrol dengannya, aku lebih memilih
mengobrol dengan teman dari luar negeri atau yang aku anggap lebih darinya. Dia
sangat baik, sangat apa adanya, sangat kelewat sabar.. sikapnya yang terkesan
polos bagiku, sangat jujur dan tulus sedikit demi sedikit membuatku tertarik
untuk mengenalnya, setelah pertemuan kami yang pertama aku malah mulai
benar-benar jatuh cinta kepadanya aku bahkan merasa sangat nyaman dengannya.
Sejak
mengenalnya caraku memandang sesuatu dan dunia ini mulai berubah, akupun
meninggalkan dunia mayaku semuanya, teman-teman chatting q, tidak menerima telepon
dari laki laki selain dia. Aku seperti berhenti berkelana, aku yang dulu selalu
mengangan angankan seseorang {orang yang membuat lukisan bunga padi seperti yang aku ceritakan} kini
sama sekali tidak ingin mengharapkannya. Satu satunya yang aku inginkan adalah
bersamanya. Dia seperti rumah yang selalu aku cari dimana aku ingin pulang,
pelabuhan terakhir dimana aku ingin singgah untuk selamanya, tapi... rumah dan
pelabuhan yang aku cari sebenarnya telah ada yang menempati, dan akupun tidak
sedang sendiri.
Dalam
hidup ini, aku sungguh tidak ingin apa apa lagi, aku hanya ingin menjadi orang
yang baik, agar suatu hari dikasihi Tuhan dan dipantaskan untuk bersamanya, aku
tahu aku telah sangat jahat mengambil sebuah ruang dari rumah seseorang, tapi
aku tidak akan pernah menyakiti seseorang dengan kehadiranku ini. Aku akan
memandang rumah itu dari jauh saja seraya berharap suatu hari akan jadi
milikku, aku akan menjaganya, mendoakannya, dan tidak akan menggangunya.
Wahai
orang yang kucintai dan mencintaiku... Bila aku pergi itu bukan karena
menjauhimu, tapi aku ingin menjagamu dan menantikanmu, aku akan melakukannya
seumur hidupku.. wahai cinta sejatiku.. aku tidak akan menginginkan orang lain
selainmu.. aku akan menjadi orang terbaik dan tidak akan jatuh lagi, tidak akan
nakal lagi, dan tidak akan berkelana lagi.. Amiinnnn