Rabu, 25 September 2013


AKU 
      Aku.. aku adalah seorang manusia yang diberi kesempatan hidup oleh  allah sejak  38 tahun silam, secara fisik aku termasuk kategori biasa biasa saja, tidak jelek dan tidak cantik, tidak tinggi dan tidak pendek sekali, tidak putih dan tidak hitam, benar-benar menengah. Aku dilahirkan dari keluarga baik dan berlatar belakang agama yang baik juga, ayahku yang berasal dari keluarga petani membentuk diriku menjadi pribadi sederhana. sedangkan ibuku yang berasal dari keluarga pedagang membentuk diriku menjadi pribadi pekerja keras dan pejuang. 
       Dalam keluargaku aku adalah anak ke 4 dari lima bersaudara. aku sangat bahagia dan bangga menjadi bagian dari keluarga besarku. Di kampung halamanku, setiapkali disebut nama  nenek moyangku orang pasti akan memberikan apresiasi yang positif, pendek kata tidak ada yang salah dari latar belakang kehidupanku.
      Entah mengapa, meski dari keluarga yang baik, sejak kecil aku merasa diriku ini tidak baik, aku "cilik ati" {kata orang jawa}, selalu merasa tidak berarti apa-apa, tidak bisa melakukan apa apa dan merasa tidak punya apa apa, aku bahkan pernah menulis surat untuk ibuku dan bertanya padanya mengapa aku tidak disayangi. Ibu tidak pernah membalas suratku, membahasnyapun tidak pernah, sepertinya beliau berharap suatu hari aku akan tahu dengan sendirirnya.
      Sejak kecil meski bukan anak yang pendiam, tapi aku tidak pernah membicarakan masalahku, dan hal-hal yang aku hadapi kepada siapapun, dan tidak ada satupun orang yang bertanya tentang aku. Kakak kakakkupun sibuk dengan dunia mereka masing masing, nyaris aku tidak punya siapa siapa, aku hanya punya seorang teman bermain yang sangat dekat, tapi sayang dia pindah sekolah saat kelas 5 SD. Sejak saat itu peringkat kelasku turun.
     Setelah SD aku minta masuk ke pesantren karena aku merasa tidak punya teman di rumah, karena teman sekolahku tidak ada yang rumahnya dekat dengan rumahku. Di pesantren atau dirumah bagiku sama saja, meski awalnya aku berprestasi, lama kelamaan aku menjadi anak yang biasa biasa saja. Masa masa dimana aku masih labil ini aku sempat punya banyak sahabat pena, salah satunya ada yang usianya jauh di atasku, beliau muallaf, aku mengirimnya foto dan akhirnya memintanya kembali, lucu sekali kalo ingat itu. ingin rasanya meminta maaf tapi aku lupa bahkan nama dan alamatnya.
     Karena aku bukan dari keluarga mampu, di pesantren aku hidup seadanya bahkan di bawah rata-rata, sering nggak punya uang, baju harian cuma 3, pakaian dalam cuma 2,  yang satu kupakai yang satu ku cuci. jangankan dapat kiriman roti atau susu, untuk keperluan sehari hari saja kurang. Aku memaklumi semua itu, aku tidak pernah mengeluh. yang membuatku sedih justru sikapku yang keras dan ingin eksis dengan keadaanku seperti itu. Baru saat ini aku menyadari kalau aku saat itu aku tidak bisa berteman, tidak bisa mengelola diriku, tidak ada juga yang perduli dan menasehatiku. 
     Saat kuliah, kebetulan aku berteman dengan teman teman yang amat baik dan cantik-cantik, sangat cantik malah. dari segi materi mereka sangat berkecukupan, keluarga mereka juga penuh perhatian. kebalikan semua dari keadaanku. Saat itu sikapku pada mereka tidak baik, mungkin untuk menutupi kekuranganku, ah, aku memang tidak bisa berteman. Akhirnya mereka menjauhiku. Dari kejadian itu aku belajar banyak sekali, aku berubah sedikit demi sedikit, aku mulai punya teman, sahabat dan memperbaiki sikapku. Tapi sayang, aku tidak bisa menjalin hubungan dengan lawan jenisku alias tidak punya pacar, dalam hal yang satu itu aku mudah sekali berubah, penuh pertimbangan. yang pertama- tama kurasakan tentang hubungan adalah aku tidak pernah merasa suka, tapi aku sudah  merasa ditolak. Perasaan seperti ini aku rasakan terhadap seorang teman laki-laki dikampus yang baru aku kenal, aku tidak punya rasa apa-apa terhadapnya, tapi dia selalu terlihat tidak tak acuh setiap kali aku bicara dan berada di dekatnya, sikapnya yang merendahkan aku {dalam versi kaca mataku, karena mungkin tidak begitu} membuat aku menangis dan merasa buruk.  Ya, aku tidak suka ditolak. Perasaan seperti inilah yang membuatku sok jaim terhadap lawan jenis. Aku merasa harus betul betul yakin terhadap pria yang menyukaiku, meski kadang aku suka aku selalu bilang tidak dan berharap dia mengejarku. Memang aneh sekali sikapku saat itu, dan sikap yang seperti itulah yang kelak membuatku kehilangan kesempatan untuk hidup dengan orang yang aku cintai dan mencintaiku.
    Aku pernah menunggu seseorang yang aku cintai dan dia bilang dia juga mencintai aku, aku selalu menjaga sebuah lukisan bunga padi yang dia buat untukku, aku menunggu janjinya untuk menonton di bioskop 21 suatu hari nanti bila kita punya kesempatan. Bukan salahnya kalo dia pergi begitu saja, karena saat dia bilang suka aku bilang padanya aku ingin berteman dekat dulu dengannya, mungkin baginya itu adalah penolakan. Padahal aku ingin yakin bahwa dia benar-benar suka padaku. Aku menghubungi nomer rumah temannya yang katanya adeknya perwira polisi dimana kita sering bertemu, tapi katanya sudah pindah. Sejak itu aku mulai menerima tawaran orang tuaku untuk menikah dengan pria pilihan mereka yang tidak pernah aku kenal sama sekali. Menikah tanpa cinta, tapi tidak juga dipaksa inilah yang kelak menjadikanku berubah menjadi jauh dari akar kehidupanku yang sebelumnya. Membuatku mudah terpeleset kepada hal-hal yang tidak baik. {kelak aku tidak akan memilihkan pasangan untuk anakku, biarlah mereka menikah dengan orang yang benar-benar mereka kenal dan mereka cintai}
   Orang tuaku memilihkan jodoh semata-mata karena mereka menyayangiku, kalau toh akhirnya tidak seperti yang mereka harapkan pasti karena mereka tidak tahu. Mereka benar-benar tidak tahu karena mereka mengenal dia  melalui perantara saudaranya saudara ipar, mereka  mungkin sangat tertarik karena calon jodohku ini {kelak jadi suamiku} menurut yang bersangkutan konon anaknya ulama besar, punya pekerjaan sebagai dosen tetap perguruan tinggi ternama, punya rumah, dan mobil sendiri. Intinya sudah mapan dan berharap kelak aku juga menjadi orang yang bahagia dengan kemapanan yang dikatakannya.
    Setelah menikah, bahkan dihari pernikahan yang pada saat itu di dalam hatiku aku berdoa semoga tidak pernah terjadi aku mulai mengenalnya. Aku dinikahi dengan mas kawin seribu rupiah, sebelumnya aku mengatakan bahwa aku tidak mau menerima mas kawin itu, lebih baik seperangkat alat shalat saja. Tetapi betapa terkejutnya aku pada saat ijab kabul justru mas kawin itu yang diberikan, saudara-saudaraku mentertawaiku karena hargaku lebih murah dari semangkuk bakso. Tapi semua sudah terjadi, aku memakluminya dan melupakannya.
    Setelah aku pindah ke kotanya yang jauh dari kotaku, aku mulai tahu yang sebenarnya, dia tidak bekerja seperti yang dikatakannya, dia juga belum selesai kuliah, kami bahkan menumpang di rumah saudaranya karena tidak sepeserpun uang yang dimiliki, kami hidup dari uang tabunganku. Aku tidak mempermasalahkannya meskipun semua kenyataan kebalikan dari yang dia katakan terhadap orang tuaku dan perantaranya. Tidak ada pekerjaan, tidak ada rumah, dan mobil yang selalu dibawanya ke kotaku ternyata adalah mobil pinjaman dari temannya. Aku bahkan menutupinya dari orang tuaku, aku tidak ingin mereka sedih. Yang aku sesali darinya adalah dia tidak menyayangiku, pernah dia mengatakan lebih baik kehilangan aku dari pada kehilangan teman teman rokok kesukaannya, karena dia memang perokok berat. Pekerjaan sehari harinya adalah tidur dan begadang, setiap kali aku memintanya menyelesaikan kuliahnya, atau melakukan sesuatu pekerjaan atau setidaknya mencari pekerjaan  dia pasti marah besar dan mengata ngataiku dengan kasar. Dalam keadaan seperti itu dia masih besikap sombong dan suka omong besar, angannya setinggi langit tapi tidak mau melakukan apa-apa {no action talk only}
    Aku masih berharap suamiku berubah, karena itu aku memutuskan untuk pulang ke kampung halamanku disaat usia kehamilanku 6 bulan dengan alasan ingin melahirkan di rumah orang tua, aku berharap dengan aku pergi dia akan berfikir untuk menata hidup keluarga kami. Sampai saat itu orang tuaku belum tahu keadaanku yang sebenarnya. Setelah anakku berusia enam bulan aku membawanya kembali ke kota suamiku dengan catatan aku tidak mau menumpang, apapun keadaan kami aku ingin mengontrak rumah. Orang tuaku mulai curiga dan akhirnya mengetahui keadaan suamiku yang sebenarnya. Mungkin karena rasa bersalah padaku orang tuaku sering mengirimku uang dan membelikan sepeda motor untuk memulai semuanya.
     Ternyata setelah kami punya anakpun suamiku tidak berubah, tetap saja suka begadang saat malam dan tidur di siang harinya. Bahkan sikapnya terhadapku malah semakin kasar, pernah aku ingin pergi dan kembali kepada kedua orang tuaku, tapi aku takut orang tuaku sedih, sakit dan menderita karena aku. Yang lebih membuatku sedih adalah aku hamil lagi di saat anak pertamaku masih kecil, yah aku tidak punya uang untuk ber KB. Lagi-lagi aku melahirkan anakku di rumah orang tuaku, dibiayai oleh orang tuaku dan aku menumpang hidup dengan mereka. Tapi apapun keadaanya aku harus kembali kepada suamiku dan berharap ia berubah.
    Setelah anakku berusia satu bulan aku kembali ke kota suamiku dan mulai bekerja, orang tuaku juga memberiku modal untuk membuat rumah. Setelah aku bekerja dan menjadi pegawai negeri, suamiku juga bekerja di yayasan keluarganya. Hidup kami mulai membaik, tapi kegemarannya begadang dan tidur tidak berubah, untunglah dia bekerja pada keluarganya, jadi dia bisa berangkat semau maunya. Sikapnya yang tidak disiplin dan semaunya membuat konflik dalam keluarganya, belakangan aku baru menyadari bahwa rumah kami yang sangat mewah ini sebagaiannya bukan dari hasil kerja suamiku. Aku merasakan betul keinginannya pada uang dan kemewahan sangat besar padahal penghasilannya jauh dari yang digambarkan oleh keadaan fisik keluarga kami, rumah besar, mobil mewah, dan lainnya. Aku ingin sekali mengembalikan yang bukan hakku ini, tapi dia tidak akan terima dan akan memakiku, sampai kinipun aku menyadari betul bahwa yang aku makan dan aku pakai sebagian bukanlah harta yang halal. Tapi aku sungguh tidak bisa berbuat apa-apa.
    Dalam keuangan keluarga, suamiku memegang peranan yang sangat besar, menurutnya aku bekerja karena seijinnya, maka semua hasil kerjaku harus aku relakan untuk diatur olehnya, pernah suatu kali aku merasa sangat membutuhkan dan meminta satu bulan gajiku saja untuk keperluanku dia mengatakan kepadaku bahwa aku tidak berhak atas apapun karena aku hanya datang ke kotanya dengan membawa kemaluanku saja, aku syok dan memutuskan untuk pergi karena tidak sanggup menghadapinya, tapi diluar dugaanku dia menodongkan parang di leherku dan mengatakan akan membunuh keluarga kami bila aku melakukan itu. Aku tahu kenekatannya, dia sangat temperamen, aku sudah biasa dimarahi di depan orang banyak, di lempar alat dapur, hp, botol. Pembantuku yang selalu menyaksikan keadaanku mengadu pada orang tuaku, mereka memaksaku untuk berpisah demi kebaikanku dan anak-anak, mereka akan membantu. Saat aku mempertimbangkan ternyata aku sedang hamil 3 bulan, akhirnya aku putuskan tetap bertahan sampai hari ini.
      Anak ketiga, aku lahirkan dikota ini, semenjak kelahiran anak ketigaku ini sikap suamiku mulai berubah, dia selalu mencoba  menahan amarahnya, dulu dia mudah marah membabi buta bahkan pada anak anak, memukul, melempar, semuanya dilakukan dengan ringannya. Tetapi kepada anak ketiga kami dia sangat sayang. Satu satunya yang tidak berubah adalah kesukaaanya pada kemewahan.
      Penyesalan terbesarku dalam hidup ini adalah menikah tanpa sedikitpun rasa cinta. Sejak awal menikah dengannya, aku merasa sudah mati rasa dalam cinta, aku tidak memperdulikannya sama sekali, jangankan saling pengertian, bercanda pun aku tidak pernah melakukankanya dengan suamiku, bagiku yang penting anak-anak dan orang tuaku bahagia. Keadaan seperti inilah yang mempertemukanku dengan dunia maya, aku mencari hiburan, teman, aku juga ingin tertawa, ingin berbagi rasa. Beberapa kali aku jatuh “cinta” dengan teman dunia maya. Aku malah dekat dengan banyak pria di dunia “mimpi” ini, jujur saja, ternyata aku senang di cintai, senang diperhatikan, senang berbagi. Aku bahkan sampai kelewat nakal. Sampai suatu ketika ada seorang teman chatting yang pada awalnya menurutku biasa biasa saja, aku jga tidak telalu tertarik untuk ngobrol dengannya, aku lebih memilih mengobrol dengan teman dari luar negeri atau yang aku anggap lebih darinya. Dia sangat baik, sangat apa adanya, sangat kelewat sabar.. sikapnya yang terkesan polos bagiku, sangat jujur dan tulus sedikit demi sedikit membuatku tertarik untuk mengenalnya, setelah pertemuan kami yang pertama aku malah mulai benar-benar jatuh cinta kepadanya aku bahkan merasa sangat nyaman dengannya.
            Sejak mengenalnya caraku memandang sesuatu dan dunia ini mulai berubah, akupun meninggalkan dunia mayaku semuanya, teman-teman chatting q, tidak menerima telepon dari laki laki selain dia. Aku seperti berhenti berkelana, aku yang dulu selalu mengangan angankan seseorang {orang yang membuat lukisan  bunga padi seperti yang aku ceritakan} kini sama sekali tidak ingin mengharapkannya. Satu satunya yang aku inginkan adalah bersamanya. Dia seperti rumah yang selalu aku cari dimana aku ingin pulang, pelabuhan terakhir dimana aku ingin singgah untuk selamanya, tapi... rumah dan pelabuhan yang aku cari sebenarnya telah ada yang menempati, dan akupun tidak sedang sendiri.
            Dalam hidup ini, aku sungguh tidak ingin apa apa lagi, aku hanya ingin menjadi orang yang baik, agar suatu hari dikasihi Tuhan dan dipantaskan untuk bersamanya, aku tahu aku telah sangat jahat mengambil sebuah ruang dari rumah seseorang, tapi aku tidak akan pernah menyakiti seseorang dengan kehadiranku ini. Aku akan memandang rumah itu dari jauh saja seraya berharap suatu hari akan jadi milikku, aku akan menjaganya, mendoakannya, dan tidak akan menggangunya.
            Wahai orang yang kucintai dan mencintaiku... Bila aku pergi itu bukan karena menjauhimu, tapi aku ingin menjagamu dan menantikanmu, aku akan melakukannya seumur hidupku.. wahai cinta sejatiku.. aku tidak akan menginginkan orang lain selainmu.. aku akan menjadi orang terbaik dan tidak akan jatuh lagi, tidak akan nakal lagi, dan tidak akan berkelana lagi..  Amiinnnn
   
   

Minggu, 01 September 2013

BELAHAN JIWAKU

      Wahai belahan jiwaku! Jangan engkau gundah karena aku tetap bersamamu. Kadang kita harus bersikap berani mengambil keputusan agar kita tidak terkungkung dalam ikatan yang selama ini kita rasakan, walaupun keputusan itu harus menambrak hukum-hukum dan dalil-dalil yang membenarkan mereka. Apakah mereka akan peduli dan merasakan apa yang kita rasakan ketika kita terbelenggu dengan aturan-aturan mereka? Apakah kita membiarkan saja belenggu itu tanpa ada keinginan untuk bisa lepas? Kadang kita hanya banyak mengeluh tanpa melakukan perubahan apa-apa.
        Mungkin kita harus belajar banyak pada semut. Semut akan terus berjalan pada tujuannya walaupun ada dinding tinggi dan tebal dihadapannya tapi semut tidak pernah mengeluh dengan rintangan yang ada dihadapannya dia akan terus berjalan menerobos dinding itu. Aku sangat mencintaimu dan ingin hidup bersamamu. Semangatlah wahai belahan jiwaku kita perjuangkan cinta kita.
KEGUNDAHAN HATIKU
     Hari Ini hatiku sangat gundah, masih terpikir olehku apa yang aku baca semalam. Kisah-kisah cinta yang sulit untuk diwujudkan, kisah cinta antara angan-angan dan kenyataan, semua kisah seolah berakhir pahit dan mengharuskan untuk kembali pada kenyataan. Seindah apapun angan-angan, pada kenyataannya sangatlah menyakitkan. Aku mulai melihat pada diriku, memang benar aku sangat mencintainya, aku sangat bahagia bersamanya, sayangnya aku tidak punya nyali untuk berjuang mendapatkannya, semua rintangan bukan hanya dari pihakku, tapi juga dari pihaknya. Kenyataan itulah yang membuatku berpikir berulang -ulang, akan aku apakan cinta yang aku puja-puja ini?  sampai kapan? dan untuk apa?. Engkau selalu mengatakan padaku bahwa aku harus yakin, optimis dan tidak putus asa, katakanlah atas dasar apa aku harus yakin? atas dasar doa? tapi apakah doa orang berdosa akan didengar Tuhan? dan atas dasar apakah aku harus optimis dan tidak putus asa? bukankah disekitar kita dan dihadapan kita ada orang-orang yang mengikat kita begitu rupa dengan hukum-hukum dan dalili-dalil yang membenarkan mereka? mereka itu adalah realita di depan mata. 
      Masku sayang, tahukah engkau? engkau adalah pelabuhan hatiku, aku benar-benar berhenti dan tidak ingin berlayar lagi, engkau adalah bagian dari jiwaku yang hilang dan kini aku temukan, tahukah engkau? belahan jiwamu ini gundah memikirkanmu, patah asaku karena tidak bisa bersamamu. Aku benar-benar dibenturkan antara asa dengan realita dan norma.  Andai aku tidak mencintai Tuhanku sedemikian rupa, andai tidak harus taat atas apa yang ditetapkanNya.. Saat ini aku merasa harus memilih, apakah aku akan terus berjalan menerobos jalan berduri dan rambu-rambu kehidupan? ataukah berhenti dibawah teriknya mentari menunggu dibukakannya jalan kehidupan untukku?